RSS : Articles / Comments


Mangkuk Kayu

19.10, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Seorang kakek tua pergi tinggal bersama anak, menantu dan cucunya yang berumur empat tahun. Kakek tua ini, tangannya gemetaran, penglihatannya kabur, dan jalannya bertatih-tatih.
Keluarga ini makan bersama di meja. Tapi tangan kakek tua yang gemetaran dan matanya yang kabur membuatnya tidak dapat makan dengan baik. Makanan sering jatuh ke lantai dan saat ia coba minum, airnya tertumpah ke atas meja.
Anak dan menantunya menjadi jengkel karena kakek tua itu sering mengotori meja makan.
"Kita harus berbuat sesuatu tentang ayah," katanya anaknya.
"Aku sudah tidak tahan lagi dengan air yang tumpah ke mana-mana, makanan di lantai dan cara makannya yang membuat orang tidak nyaman."
Lalu, pasangan suami istri ini menyiapkan satu meja kecil di hujung ruangan. Di situ, kakek tua makan sendirian sementara keluarganya menikmati makan bersama di meja makan. Karena kakek tua sering memecahkan piring, makanannya disajikan di atas mangkuk-mangkuk kayu.
Saat keluarganya memandang ke arahnya yang sedang duduk makan sendirian, seringkali mereka melihat air mata di mata kakek. Namun, tetap saja, pasangan suami istri itu dengan keras menegur kakek ketika ia menjatuhkan senduk atau menumpahkan makanan.
Anak kecil berumur empat tahun itu memerhatikan semuanya
Suatu hari sebelum makan malam, sang ayah melihat anaknya bermain dengan serpihan kayu di lantai. Dengan hangat, ayahnya bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan?" Dengan penuh kasih anaknya menjawab, "Oh, saya sedang membuat mangkuk untuk papa dan mama makan setelah saya dewasa." Dengan senyuman di bibir, anak itu melanjutkan apa yang sedang dilakukannya.
Kata-kata anak kecil itu membuat orang tuanya tersentak. Lalu air mata berlinangan di pipi mereka. Sekalipun mereka tidak berkata apa-apa, mereka tahu apa yang harus dilakukan.
Malam itu, sang suami memimpin tangan kakek dengan lembut dan membawanya ke meja makan keluarga. Di sisa hidupnya, kakek itu makan bersama keluarganya. Dan entah mengapa, anak atau menantunya, tidak lagi merasa terganggu saat kakek menjatuhkan senduk, menumpahkan air dan mengotori meja makan.
(Kisah ini pertama kali ditulis oleh Leo Tolstoy The old man and his grandson)
Selengkapnya...

Pensil

22.32, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Sorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat .
"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?" Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai." "Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.
Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini." "Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya" .
"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".
"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar"..
"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".
"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan". (by Paulo Coelho)

Selengkapnya...

Kisah Sebatang Bambu

22.05, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."
Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam....., kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Tuhan sedang membuat kita sempurna untuk dipakai menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi kerajaan-Nya? Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Ini aku Tuhan, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."

Disadur dari http://www.klinikrohani.com
Selengkapnya...

Nelayan yang Berkecukupan

09.59, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Seorang Usahawan terperanjat ketika menjumpai seorang Nelayan sedang berbaring santai di samping perahunya sembari menghisap pipa.

Lalu kata Usahawan itu, ”Mengapa kau tidak pergi menangkap ikan?”

”Karena ikan yang kutangkap sudah cukup untuk hari ini”, sahut si nelayan tersebut dengan santai.

”Mengapa kau tidak menangkap lebih banyak lagi?”, begitu saran si Pengusaha dengan sedikit keheranan.

”Buat apa?” balas si Nelayan

”Agar mendapat lebih banyak duit, lalu kau bisa beli motor tempel untuk perahumu, sehingga kau bisa melaut lebih jauh dan menangkap lebih banyak ikan!”. ”Itu akan menghasilkan lebih banyak duit untuk membeli pukat nilon”. ”Jadi lebih banyak ikan, lebih banyak duit!”

”Tak lama duitmu akan cukup untuk membeli dua kapal, bahkan sejumlah kapal, lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku!”

”Lantas aku bisa apa lagi”, sergah si nelayan sambil mengernyitkan dahinya.

”Nah, selanjutnya barulah kau bisa benar-benar menikmati hidup”, ujar si Usahawan dengan bangga.

Si Nelayan tidak bergeming, ia kelihatan tetap santai berbaring, bersandar di perahunya sambil menghisap pipa itu dalam-dalam, lalu ia pun balik bertanya, ”Lho, emangnya sekarang ini aku sedang apa?” "Menikmati hidup bukan?"


Renungan: Mana yang lebih anda miliki : Harta melimpah atau kemampuan untuk menikmati hidup?

Diambil dari Kicauan Burung, Anthony de Mello hal 183
Selengkapnya...

Secangkir Kopi Kehidupan

09.01, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Suatu hari beberapa alumni Universitas California Berkeley yg sudah bekerja & mapan dalam karir, mendatangi Profesor kampus mereka yang kini sudah lanjut usia. Mereka membicarakan banyak hal menyangkut pekerjaan maupun kehidupan mereka.

Sang Profesor lalu ke dapur dan kembali dengan membawa seTéko kopi panas. Disebuah nampan ia membawa bermacam-macam cangkir. Ada yg terbuat dari kaca, kristal, melamin, beling dan plastik. Beberapa cangkir nampak indah dan mahal, tetapi ada juga yg bentuknya biasa-biasa saja dan terbuat dari bahan yang murah. "Silahkan masing-masing mengambil cangkir dan menuang kopinya sendiri", Sang Profesor mempersilahkan tamu-tamunya. Setelah masing-masing sudah memegang cangkir berisi kopi, Profesor itu berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir-cangkir yang bagus dan yang tertinggal kini hanya cangkir murah dan tidak begitu menarik. Memilih yang terbaik adalah hal yang normal. Tetapi sebenarnya justru disitulah persoalannya. Ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian menjadi terganggu. Kalian mulai melihat cangkir-cangkir yang dipegang orang lain dan membandingkanya dengan cangkir yang kalian pegang. Pikiran kalian terfokus kepada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya, melainkan kopinya."

Sesungguhnya kopi itu adalah kehidupan kita, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, uang dan posisi yang kita miliki. Jangan pernah membiarkan wadah dari kopi mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Orang boleh saja menaruh kopi kedalam gelas kristal yg sangat mahal dan indah, tetapi belum tentu mereka dapat merasakan nikmat dari kopi tersebut. Artinya, ada sebagian orang yg menurut penglihatan jasmaniah kita mereka begitu beruntung dan berbahagia, tetapi belum tentu mereka dapat menikmati indahnya karunia kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.

Mari kita belajar menghargai dan mensyukuri hidup ini bagaimanapun cara Tuhan "mengemas"nya untuk masing-masing kita. Yang penting sikapi anugerah kehidupan dengan baik serta mengisinya dengan hal-hal yang benar dan positif.

Selengkapnya...

Yesus dan Piala Dunia

23.34, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Diantara gempitanya Piala Dunia di Afrika, dan untuk mendukung program Anti Rasis, Panita FIFA sepakat untuk menyelenggarakan Pertandingan hiburan, kali ini akan ditampilkan pertandingan antara kesebelasan Protestan melawan kesebelasan Katholik. Maka dipilihlah 11 pemain terbaik peserta Piala Dunia yang beragama Protestan dan 11 lagi yang terbaik dari yang beragama Katolik.

Kapten kesebelasan Protestan adalah Christiano Ronaldo, sedang kapten kesebelasan katolik adalah Lionel Messi. Wasit yang ditugaskan FIFA dalam pertandingan ini adalah Yuichi Nishimura, dari Jepang yang beragama Shinto.
Karena ini adalah partai istimewa maka Tuhan Yesus datang untuk menonton pertandingan ini. Panitia memang tidak mengundangnya, karena Panitia takut Yesus gak akan mampu bayar untuk tiket VIPnya, maklum Dia kan anak Tukang Kayu jadi pasti gak mampu bayar, begitu pikirnya.

Yesus pun memilih duduk di bangku kelas ekonomi berbarengan orang kebanyakan yang justru banyak ulahnya. Ada yang dicorat coret wajahnya dengan tanda salib merah, ada yang membawa bendera vatikan, ada yang membawa wirog dupa untuk prosesi misa dan ada juga yang meniup terompet Malaikat ala Afrika yang suaranya hampir memecahkan telinga. Namun Yesus duduk dengan tenang dan antusias menanti pertandingan tersebut.

Akhirnya pertandingan dimulai, menit demi menit kedua kesebelasan itu menampilkan kebolehannya, juga tehniknya. Namun demikian masih saja ada pelanggaran. Biasanya wasit memberikan hukuman kepada pemain yang melakukan pelanggaran dengan hukuman berdoa, yang Kristen diminta berdoa Bapa Kami, yang Katolik diminta berdoa Salam Maria 3x.

Setengah permainan belum terjadi goal, baru dimenit ke-75 Miroslav Klose dari kesebelasan Katholik menyarangkan gol ke kiper lawan yang kebetulan dijaga kiper Inggris, David James, Tuhan Yesus pun berdiri untuk memberikan aplaus. Beliau bertepuk tangan penuh suka cita. Hal itu membikin Nelson Mandela yang ada tidak jauh dari Yesus pun bergumam, “Rupanya Yesus mendukung kesebelasan Katolik”, pikirnya.

Kesebelasan Protestan tidak gentar akhirnya sundulan Andreas Iniesta, asist dari Dari David Vila berhasil menggetarkan jala yang dikawal oleh Yulio Caesar kiper tangguh dari Brazil.

Kembali Yesus bangkit berdiri, memberikan aplaus tepuk tangan untuk kedudukan imbang 1-1. Penonton di sebelahnya, yang kebetulan penyanyi kondang Mick Jager heran dan bertanya "Guru, sebenarnya Engkau memegang kesebelasan mana?" “Katolik atau Protestan?”.

Maka Jawab-Yesus, "Aku bertepuk tangan ketika melihat cara bermainnya bagus". Demikianlan sabda Tuhan.

(diinspirasi dari The Song of Bird buku karya Antony de Melo)
Selengkapnya...

Tuhan itu Maha Baik

09.37, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Di sebuah Padang tinggallah seorang Petani dengan seorang anak lali-laki yang sangat ia cintai. Kekayaan petani itu hanyalah seekor kuda betina.

Seperti layaknya perkampungan biasanya rumah-rumahnya menggerombol . Sayang sungguh sayang lingkungan si Petani ini kurang baik, karena masyarakatnya punya kebiasaan ”ngrasani”.

Suatu hari desa itu gempar ....... karena kuda satu-satunya si petani itu hilang ..... hari itu juga hilangnya sang kuda menjadi buah bibir .... di jalan, di ladang, di pasar, di warung, semua orang membicarakan nasib si Petani. Kebanyakan dari mereka menyalahkan si Petani, banyak diantara mereka yang menganggap si Petani itu apes karena tindakannya berbuat dosa.
Kabar itu sampai juga ke telinga si petani, namun si Petani itu hanya bergumam bahwa ”Tuhan itu Maha Baik”

Tujuh hari berselang, sang Kuda yang hilang kembali menjadi buah bibir, karena kembali dengan membawa 10 ekor kuda liar jantan dari hutan. Spontan penduduk yang gila gosip pun menyanjung si petani, ”Wah, sungguh hebat si Petani ini, hanya dalam seminggu kekayaannya berlipat sepuluh kali lipat”

Lagi-lagi petani yang rendah hati ini mengucap syukur, ”Tuhan itu Maha Baik”


Suatu siang, ketika anak laki-laki si Petani sedang menyabit rumput di Padang, tubuhnya ditabrak oleh segerombolan kuda-kuda miliknya yang berlarian. Kecelakan itu menyebabkan kakinya patah ......

Tak ada habis-habisnya Penduduk desa itu menyumpahi si Petani, ”Itulah kalau hanya mikirin kekayaan, sampai anaknya sendiripun tidak dipikirkan”, ”Ini pasti karma dari perbuatannya”, begitulah serapah penduduk yang menjadi ’trending topic” hari itu. (hi hi hi minjam istilah tweeter)

Si Petani dengan sabar menerima kenyataan ini , karena baginya buah-buah Roh Kudus no 9 yaitu Penguasaan Diri selalu bersemayam di hatinya. Dia pun tetap yakin bahwa ”Tuhan itu Maha Baik”

Menjelang bulan sabit berakhir, Raja Digdaya yang memerintah negeri itu mengeluarkan maklumat, bagi Pemuda yang bertubuh sehat harus melakukan wajib militer untuk menghadapi serangan musuh dari Kerajaan Utara. Tak ayal semua pemuda di desa itu diberangkatkan untuk manahan serangan musuh.

Sungguh malang tak ada satupun pemuda desa itu yang pulang kembali dengan selamat, semuanya tinggal nama. Terkecuali satu-satunya pemuda anak Petani yang cacat itu karena memang tidak diwajibkan ke medan tempur.

”TUHAN ITU MAHA BAIK”
Selengkapnya...

Cinta itu Indah

01.50, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Alkisah di sebuah kampung di kaki bukit Merapi yang damai disitu tinggalah pasangan suami istri, Pak Tulus dan Bu Kasih, yang miskin. Mereka tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana yang hanya beralaskan tanah dan beratapkan jerami. Harta Pak Tulus yang berharga satu-satunya hanyalah sebuah jam tangan merek Rolex yang ia beli dari jerih payahnya bekerja bertahun-tahun sebagai Tukang bangunan ketika merantau di Jakarta. Malangnya rantainya sudah rusak karena pernah jatuh di jalan dan terlindas becak yang lewat.

Demikian pula dengan Bu Kasih istrinya, satu-satunya harta yang berharga miliknya adalah sebuah Tusuk Konde yang terbuat dari monel (emas putih). Biasanya bu Kasih mengenakan tusuk konde itu untuk hiasan rambutnya bila menghadiri pertemuan penting di kampungnya. Kebetulan juga rambut bu Kasih indah dan panjang.

Hampir 40 tahun mereka hidup dalam ikatan suci dan belum dikarunia anak, namun demikian mereka saling mencintai, bagi mereka janji perkawinan yang mereka ucapkan tanggal 28 Desember tahun 1950 disebuah kapel kecil di Wonogiri adalah janji setia selamanya.

Demikianlah, seperti biasa tiga hari setelah Natal mereka selalu merayakan ulang tahun perkawinan mereka secara sederhana. Tahun ini adalah hari Ulang tahun perkawinan mereka yang ke-50, orang bilang ini adalah ULANG TAHUN EMAS, Bu Kasih berpikir untuk memberikan yang terbaik buat Pak Tulus sebuah hadiah. Dia sangat ingin memberikan suaminya sebuah rantai untuk jam tangannya, tetapi karena tidak memiliki cukup uang diapun memutuskan untuk menjual Tusuk Konde monel-nya.

Namun karena dirasa tidak cukup iapun memutuskan juga untuk memotong rambutnya dan menjualnya supaya cukup untuk dibelikan sebuah rantai emas yang bagus untuk jam tangan Pak Tulus.

Begitupun juga Pak Tulus, dia juga ingin memberikan hadiah yang terbaik buat istrinya . Maka dijualnya satu-satunya Jam Tangan kesayangannya itu dan hasilnya dia belikan Tusuk Konde emas yang baru buat istri tercintanya. “Pasti istriku akan tampak cantik bila memakai tusuk konde yang baru ini”, pikirnya. “Aku akan berikan kejutan ini pas di hari ulang tahun perkawinan”, gumamnya.

Akhirnya, sore hari tepat di hari ulang tahun perkawinan, sekembalinya Bu Kasih dari pergi ke kota untuk menjual tusuk konde dan rambutnya itu dia tidak mendapati suaminya berada di rumah. Bu Kasih tampak gelisah, ”Kemana ya Mas Tulus, apa dia sudah melupakan hari yang indah ini”. Tangannya menggenggam sebuah kotak indah berisi rantai jam terbuat dari emas yang dia beli tadi siang. Bu Kasih tampak mulai kuatir. Dia tahu Pak Tulus sangat mengagumi rambut panjangnya, dan dia bertanya-tanya apakah Pak Tulus akan kecewa saat suaminya itu mengetahui bahwa dia telah memotong rambutnya dan menjualnya.

Bu Kasih pun duduk termangu di bangku bilik mereka yang kecil.

Sejurus kemudian terdengar suara dari dalam kamar menyapa, ”Selamat ulang tahun Sayang”, . Bu Kasih tampak terpana ia tahu rupanya Suaminya mau membuat kejutan, ternyata Pak tulus telah menunggu dan bersembunyi di Ruang tempat menumpuk kayu di belakang rumah. Bu kasih segera beranjak menuju suara yang memanggilnya. Saat dia membuka pintu, dia terkejut melihat Pak Tulus dengan muka yang cerah siap menunggunya. Di tangannya ada sebuah kotak yang terbungkus rapi berisi kado yang telah Pak Tulus belikan untuk istrinya.

Saat Bu Kasih melepas kerudungnya dan Pak Tulus melihat rambut Bu Kasih yang pendek, mata Pak Tulus mulai berkaca-kaca. Tapi dia menahan air matanya agar tidak menetes dan memberikan Bu Kasih kotak hadiahnya. Sambil terbata dia berujar, ”Selamat untuk ulang tahun pernikahan kita Sayang”, ” Aku belikan ini untukmu, tadi siang aku telah menjual jam tanganku, aku mencintaimu sayang”, dikecupnya kening istrinya itu dengan lembut.

Saat Bu Kasih membukanya, diapun tidak dapat mempercayai apa yang ada di depannya. Di dalam kotak itu ada satu set Tusuk Konde emas yang indah untuk rambutnya yang panjang. Tampak air mata bu Kasih meleleh, terpana .... dan iapun juga memberikan bungkisan pembeliannya untuk suaminya itu.

Dan saat Pak Tulus membuka bingkisannya, diapun juga terkejut. Di dalam kotak itu ada sebuah rantai emas yang indah untuk jam tangannya yang telah ia jual.
Pak Tulus terperangah, bola matanya mulai berlinang, lalu dipeluknya istrinya erat-erat, Bu Kasih pun memeluk suaminya itu , dan dari mulutnya keluar kata lirih ”Selamat ulang tahun buat perkawinan kita Mas, aku mencintaimu juga”.


Demikianlah teman-teman akhirnya Pak Tulus dan Bu Kasih mendapatkan hadiah yang pasti tidak dapat dipakainya lagi, karena jam tangan Pak Tulus telah di jual, demikian pula bu Kasih yang kini rambutnya telah pendek tidak mungkin menggunakan tusuk konde itu lagi.

Teman-teman, hadiah-hadiah ini sebenarnya sangat indah, tetapi jauh lebih indah cinta yang dilambangkan oleh hadiah-hadiah yang mereka berikan ini. Selamat merenungkan. Amin
Selengkapnya...

Impian 3 Pohon

22.06, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Alkisah di sebuah puncak gunung tumbuhlah tiga batang pohon kecil beserta impiannya masing-masing. Pohon kecil pertama menerawang ke arah bintang-bintang dan berkata, "Saya akan tumbuh menjadi kotak harta terindah di dunia yang akan berisi harta karun serta dipenuhi emas dan permata." Pohon kecil kedua memandang ke arah sungai kecil yang mengalir ke laut dan berseru, "Saya akan menjadi kapal yang termegah di dunia, mengarungi samudra luas dan membawa raja-raja yang berkuasa." Pohon kecil ketiga melihat ke arah kota, di lembah tempat orang-orang sibuk bekerja, "Saya ingin tumbuh menjadi pohon tertinggi di dunia, sehingga orang-orang yang berhenti untuk menggagumi saya harus memandang ke arah surga dan teringat akan Tuhan!" Tahun demi tahun berlalu, dan hujan serta sinar matahari silih berganti bersamaan dengan tumbuhnya tiga batang pohon tersebut.
Sampai suatu saat, datanglah penebang kayu. Penebang pertama memandang ke arah pohon pertama dan berkata, "Pohon ini sungguh indah dan sangat sempurna bagiku." Dengan sesekali mengayunkan kapaknya yang berkilauan, tumbanglah pohon pertama itu. "Sekarang saya akan diolah menjadi kotak perhiasan, saya akan berisi harta yang sangat indah," kata pohon pertama.

Penebang kedua memandang ke arah pohon kedua dan berkata, "Pohon ini sangat kuat dan sesuai bagiku." Dengan sebuah ayunan kapaknya yang berkilauan, robohlah pohon kedua tersebut.

Pohon ketiga merasa jantungnya berhenti berdetak manakala penebang terakhir memandangnya. Dia berdiri tegak dan dengan gagahnya menjulang ke surga, tetapi dengan tanpa menolehpun, bergumamlah penebang tersebut, "Pohon apapun sesuai bagiku." Dan tumbanglah pohon ketiga tersebut bersamaan dengan ayunan kapak sang penebang.

Pohon pertama sangat bersukacita tatkala penebang membawanya ke tukang kayu. Tapi apa daya, sang tukang kayu mengolahnya menjadi kotak makanan ternak. Pohon yang indah itu bukan berisi emas dan permata, tetapi dipenuhi dengan serbuk gergaji dan disi dengan jerami untuk makanan ternak.

Pohon kedua tersenyum saat penebang tersebut membawanya ke sebuah galangan kapal. Tetapi bukanlah sebuah kapal pesiar megah yang dibuatnya, melainkan sebuah kapal nelayan sederhana yang diolah dari sebuah pohon yang kuat itu. Kapal tersebut terlalu lemah dan kecil untuk mengarungi samudera atau sungai, sebaliknya ia dibawa ke sebuah danau.

Pohon ketigapun bingung pada saat penebang tersebut mengolahnya menjadi sebatang pilar dan menggeletakkannya di gudang penyimpanannya. "Apa yang terjadi," katanya. "Yang paling saya inginkan hanyalah tinggal di puncak gunung dan mengarah ke Tuhan!"

Hari demi hari berlalu, siang dan malam silih berganti. Ketiga pohon itupun telah hampir melupakan impian mereka.

Tetapi suatu malam, cahaya bintang keemasan menyinari pohon pertama manakala seorang ibu muda membaringkan bayinya yang baru lahir ke dalam palungan tersebut. "Seandainya saya dapat membuatkan sebuah ayunan bagi bayi-Nya." bisik sang suami. Wanita tersebut menyentuh lengan suaminya dan tersenyum memandangi kayu yang kuat dan halus tersebut, yang berkilau diterpa sinar bintang dan berkata, "palungan itu sangat indah!"
Pada saat itu pula pohon pertama tersebut menyadari bahwa ia sedang memegang harta terbesar di dunia.

Suatu senja, seorang penggembara yang letih bersama dengan rombongannya berduyun-duyun menaiki sebuah perahu nelayan tua. Sang penggembarapun jatuh tertidur dengan lelap saat pohon kedua berlayar dengan tenaga ke danau.
Tiba-tiba datanglah topan dan bagai. Pohon kecil tersebut menjadi takut, karena ia tahu ia tidak cukup kuat untuk membawa sedemikian banyak penumpang mengarungi hujan dan badai tersebut dengan aman. Penggembara yang ternyata lelaki muda itupun terbangun, berdiri dan merentangkan kedua belah tangan-Nya seraya berkata, "tenanglah!" Dan badaipun segera berlalu. Pada saat itu pohon kedua menyadari bahwa ia sedang membawa Raja atas langit dan bumi.

Pada suatu jumat pagi, pohon ketigapun tertegun tatkala ia dibawa dari tumpukan kayu tersebut. Diapun menciut pada saat digotong melewati massa yang mengamuk. Dan semakin bergetarlah ia tatkala prajurit memakukan tangan seorang lelaki ke dirinya. Ia merasa dirinya menjadi begitu buruk, kasar dan tajam. Tetapi pada hari minggu pagi, pada saat sang surya terbit dan dunia bersukacita, pohon ketiga tersebut menyadari bahwa kasih Tuhan telah mengubah segalanya. Tuhan telah menjadikan pohon tersebut kokoh dan semua orang mengenang pohon tersebut akan teringat pada Tuhan!
Bukankah itu lebih berarti daripada menjadi pohon tertinggi di dunia ?
Selengkapnya...

Surga dan Neraka Sama ?

20.53, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Salah satu cerita satire dari Antony de Melo, SJ seorang yesuit adalah kisah tentang situasi surga dan neraka waktu acara makan yang sama.
Tersebutlah suatu hari seorang pemuda dalam komanya ia dijemput oleh seorang malaikat dan diajak jalan jalan melihat suasana neraka dan surga.
Sampai di neraka ia melihat para penhuninya duduk di meja saling berhadapan dan di depan mereka tersedia makanan yang lezat ,namun ketika mereka mau memakannya mereka sangat kesulitan karena mereka harus menyendok makanan mereka dengan sendok sepanjang satu meter dan akhirnya sia sia saja walaupun makanan yang tersedia enak, namun mereka tak berhasil memakannya karena sendok yang di pakai terlalu panjang hinga makanan hanya tumpah dan merekapun menjerit kelaparan.
Dan anak inipun di bawa sang malaikat ke surga ,dan disinipun pas lagi acara makan dengan meja panjang dan mereka duduk berhadapan dan juga mengunakan sendok yang panjang seperti penghuni neraka.
Anak inipun keheranan dan bertanya kepada malaikat itu ‘kok Cara makan neraka dan surga sama? Kan merka tentu sulit makan dan akan kelaparan seperti penhuni neraka?
Tenang dulu nak kau perhatikan cara mereka makan lah yang berbeda ,walau hidangan dan alat makannya sama namun cara makan peghuni neraka dan penhuni surga berbeda! Kata malaikat itu pada sang anak.
Anak itupun merperhatikan cara makan para penghuni surga, dan teryata memang mereka bisa makan dengan sendok sepanjang satu meter itu dengan cara saling menyuapi antara penghuni surga yang saling berhadapan di meja makan itu.
Sekarang mengerti kau nak beda penghuni surga dan neraka? Tanya malaikat itu pada anak itu ,dan langsung melanjutkan perkataannya ,di neraka para penghuninya serakah tak mau berbagi dan akhirnya mereka tak bisa makan apa apa dan selalu kelaparan ,namun disurga para penghuninya mau saling berbagi dengan cara saling menyuapi sesama mereka dan dengan berbagi mereka pun bisa sama sama makan.
Jadi nanti begitu engkau sadar sampikanlah kepada semua manusia agar mau saling berbagi dan saling mengasihi agar suatu hari nanti mereka akan masuk sorga.
Anak inipun menganguk dan mengiyakan.
Makna: gambaran situasi surga dan neraka dicerita ini hanyalah rekaan ,namun pesan cerita ini jelas agar kita mau saling berbagi dan saling mengasihi ,maka orang seperti inilah yang akan masuk surga.
God Bless You
Selengkapnya...

Wejangan Nenek

08.04, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Nenek Rika sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka. Kali ini, Ican mulai menggoda dia dengan berkata, "Nek, apakah nenek masih pergi ke Gereja pada hari minggu?""Tentu!""Apa yang nenek peroleh dari Gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami tentang Injil minggu lalu..?""Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya.
""Lalu apa khotbah dari Pastor?""Nenek tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah. Nenek hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah yang memberi kekuatan, Nenek menyukai khotbah itu."Ican menggoda, "Apa untungnya pergi ke Gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu dariNya?" Nenek Rika terdiam oleh kata-kata itu lantas duduk termenung. Dan cucu-cucu lainnya tampak menjadi malu. Kemudian nenek Rika berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk, dan berkata, "Cucu-cucuku, ayo ikut nenek ke dapur." Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan memberikannya kepada Ican sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa kemari!" "Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air didalam tas rajutan....! "Nek, apa ini bukan lelucon?" tanya Ican."Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan. Nenek ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu." Maka Ican berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang bertetes-tetes. "Lihat, nek," katanya. "Tidak ada air di dalamnya.""Benar," katanya."Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Cucu-cucuku, tidak pernah kita ke gereja tanpa mendapatkan sesuatu yang baik, meskipun kita tidak tahu sekalipun, karena Yesus mencintai kita"
Selengkapnya...

Kisah Pohon Jambu

08.02, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Di dusunku ada 2 orang kaya yang memiliki pohon jambu, sebutlahPak Amat dan Pak Amit.
Pak Amat adalah tipe orang ndeso yang murah hati sedang Pak Amit adalah sosok orang yang katrok dan kikir.

Kebetulan rumah kedua saudagar itu berhadapan dan terletak diujung desa, yang merupakan pintu gerbang masuk dusun kami yang subur itu.

Tiap hari banyak orang yang lalu lalang, bahkan beberapa di antara mereka ada yang berteduh di bawah pohon jambu milik Pak Amat yang rindang itu. Karena Pak Amat tidak pernah memagari halamannya.

Ketika musim jambu tiba, Pak Amat selalu mempersilahkan orang untuk mampir ke rumahnya yang asri itu..... dan semua orang boleh mencicipi jambu sesukanya. "Silahkan Den mampir ke gubug kami ..... dan jangan malu mencicipi jambu cincalow kami", “Anggaplah seperti di rumah sendiri”, begitu kata Pak Amat mempersilahkan tamunya bak seorang Raja.

Walhasil banyak orang yang menyukai Pak Amat .... sehingga di rumahnya banyak sekali orang yang berkunjung saban harinya. Para tamu Pak Amat itu biasanya menjolok jambu dengan peralatan sekenanya ….. sehingga banyak jambu-jambu yang berjatuhan dan berserakan mebuat kotor halaman Pak Amat. Namun Pak Amat tetap berbesar hati, senyumnya senantiasa tersungging dari bibir yang berkumis lebat itu meskipun setiap menjelang petang harus menyapu halaman tersebut seorang diri.

Berbeda dengan Pak Amit .... halamannya yang cukup luas itu dipagarinya dengan kawat berduri , apalagi musim tahun ini pohon pak Amit berbuah sangat lebat dan rasanya …amboi manisnya.

Akhir pekan ini Pak Amit berencana memanen jambu tersebut dan menjualnya ke Tengkulak Suryo, maklar buah-buahan dari dusun sebelah. Sampai suatu siang sebuah batu sekepal tangan melesat dan menjatuhkan beberapa bulir jambu yang ranum itu ….. rupanya si Bejo anak SD Karang Kobar yang masih duduk di kelas 2 itu yang melemparinya.

Si Bejo yang punya reputasi selalu tinggal kelas itu tak kuasa menahan air liurnya ketika matanya telah tertumbuk pada cincalauw yang ranum hasil lemparanya yang sungguh talent dan jitu itu ……..

Namun tanpa disangka dan dinyana Pak Amit keluar dan sembari mengacungkan golok mengejar si Bejo.

Masih beruntung kaki si Bejo seramping kaki kijang, sehingga dengan secepat jepretan blitz kamera tempo doeloe, Bejo mampu mengambil langkah dua ribu .... terbirit barat...menyelinap dalam rerumpunan pohon tebu tak terkejar..........

”Kurang ajar...... kecil-kecil sudah maling ...... awas kalau berani kesini lagi .....kucincang kau jadi srundeng.”, begitu umpat pak Amit yang memang terkenal super pelit ini.......

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan ketika musim jambu kembali tiba setahun kemudian. Pohon jambu Pak Amat berbuah semakin lebat dan berkualitas rasanya ....... namun tragis Pohon jambu Pak Amit kali ini berbuah hanya sedikit saja ..... dan itupun rasanya masam .....

Begitulah pembaca yang pakdiman eh budiman ....... kisah Pak Amat dan Pak Amit ini membawa kita dalam permenungan..... bahwa alampun akan senantiasa berbuat adil terhadap perbuatan kita ..... untuk itu marilah kita senantiasa berbagi ..... terutama kepada mereka yang kekurangan ...... Amin.
Selengkapnya...

Penjual Lilin

07.53, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

Siang tadi, disebuah meja kecil warung Burger King di bilangan Thamrin, Jakarta pusat 2 sahabat lama bertemu. Sebenarnya keduanya hanya berseberangan kantor, cuman ya namanya Jakarta tetep aja 12 tahun baru ketemu . Itupun terjadi karena bantuan Om Google yang memberikan nomor hapeku ke sahabat tadi.


Bambang, aku memanggilnya.... dialah teman sebangku waktu aku menuntut ilmu di SMP 5 Yogyakarta tahun 80-an.
Dulu dia kukenal sebagai jawara Puisi dan menyanyi. Suaranya merdu seperti burung Nightingale dalam roman Ratu Peri. Bahkan sering dipercaya menjadi Komandan Upacara bergantian dengan Anis R. Baswedan yang sekarang menjadi rektor Universitas Paramadina yang wajahnya sering nongol di TV One itu. Sepengetahuanku dia adalah anak semata wayang dari ibu single parent yang tegar menantang hidup.

Rambutnya agak sedikit beruban, sedikit guratan wajah yang mengikuti usianya , pembawaannya tenang penuh kontemplasi hidup.

Hari ini dia berjanji akan bercerita tentang profesinya yang baru 2 tahun ini ia geluti, selain kisah haru bahwa sebenarnya Bapaknya masih hidup, beristri dan punya 3 anak di kota Buaya. Ia baru tahu dan bertemu bapak kandungnya itu sebelum menikahi Surti mantan pacarnya yang sekarang dikarunia 3 orang anak dan tinggal bahagia di Serpong. Ia berharap bahwa kedua orang tuanya bisa bersatu kembali menjadi saksi kehidupan baru anaknya si mata wayang. Namun butiran air mata mesti menetes ketika orang yang dicintainya itu tak kunjung datang di hari Pelaminan. (waduh ..... nggrantes)

Dia bertutur sekarang dia berkarya sebagai Penjual Lilin. Lilin yang akan senantiasa menerangi dan tak akan pernah padam. Lilin yang akan menjadi surat cinta yang tulus bagi istri dan buah hatinya.

..... he...he.... stop dulu sekarang udah jam 2 pagi ..... mesti bobok besuk harus njemput Eyang Kakung di Senen ..... ntar nyambung deh .....
Selengkapnya...

07.45, Posted by Ch. Yosefina, No Comment

BIA & Remaja Yohanes Pembabtis Ciluar

Mempersembahkan:
SEPATU NATAL (Tersedia CD, please email Yosefina)

Karya: Hermawan Winditiyo
Sutradara: Ch. Yosefina W
Music Editing : Antonius LG
2009

N: Beberapa hari menjelang perayaan Natal tiba, di sudut kota, terjadi berbagai pembicaraan seputar naiknya harga BBM dan hidup yang semakin tak terjangkau. Keadaan ini semakin terasa di kalangan orang-orang miskin dan lemah, khususnya para pemulung yang bermukim di pemukiman kumuh. Bagi mereka yang miskin papa, Natal dan Tahun Baru seolah berlalu begitu saja, tanpa makna dan tanpa arti. Hari-hari terasa panjang menantikan keceriaan dan kebahagaiaan yang akan muncul dari senyum-senyum mereka. Siapa yang akan menolong mengentaskan nasib mereka? Apakah Natal dan Tahun yang baru akan mengubah situasi hidup mereka? Akankah mereka menemukan Sang kebahagiaan itu, yang dalam kepapaannya masih mengharapkan tas, bangku sekolah dan sepatu natal? (INSTRUMEN)

ADEGAN I (Di pemukiman kumuh)
P1: Aku rasa, hidup makin hari makin susah saja. Harga-harga kebutuhan pokok pada naik, dan lebih parah lagi minyak tanah dan ongkos kendaraan umum, huh....naiknya selangit, bener ndak Yem…?
P2: Iya, aku sampai kesel, anakku yang paling kecil, udah nggak mungkin bisa sekolah lagi. Mana cukup hasil mulungku bisa buat bayar sekolah dan beli buku-buku sekolah yang mahal-mahal itu!
P1: Bener-bener! Coba, kalau kita jadi orang kaya, seperti orang-orang yang tinggal di rumah kaca itu. Nggak pernah kena panas, kehujanan, selalu makan enak, hidup serba kecukupan. Oh betapa indahnya hidup ini...
P4: Kadang-kadang muncul rasa iri dalam diriku, kenapa sih orang-orang kaya itu lebih beruntung dari pada aku. Sering aku merasa jengkel dengan pemimpin-pemimpin kita, yang seenaknya aja memimpin rakyatnya. Yang mereka kejar adalah kemakmuran sendiri dan bukan kemakmuran rakyat. Dasar, jadi pejabat cuman mau cari enaknya doang.......
P3: Hus....udahlah nggak usah ngacou ngomongnya! Nggak usah menyesali nasib, mungkin emang udah nasib kita jadi orang susah. Sabar aja Yu, sapa tau, di tahun yang baru ini, rejeki kita bakal lebih banyak lagi.....
P2: Lebih banyak apaan, tiap tahun juga gini-gini aja, tahun kemarin kayak gini, tahun sebelumnya kayak gini juga, tahun baru kagak tahun baru, kagak ada bedanya. Yang baru sih tahunnya, tapi nasib kita tetep kere aja......huh....
P3: udahlah...percuma kita ngomong banyak. Sekarang yang penting kita bekerja dengan tekun, supaya hasil kerja kita hari ini bisa kita tukar dengan beras dan minyak tanah. Masih banyak saudara-saudara kita yang tidak lebih beruntung dari kita. Masing untung, Tuhan masih memberikan kehidupan pada kita, kita tidak mati kelaparan. Coba lihat, Yosef dan Maria itu, mereka selalu rukun, dan bekerja dengan tekun, tanpa mengeluh. Maria hamil tua tapi tetap membantu suaminya bekerja. Walaupun hidup susah tapi mereka tetap tekun bekerja dan pantang menyerah.
P4: Benar, kasihan Yosef, sebentar lagi ia harus menyediakan uang yang cukup untuk kelahiran putranya yang pertama, sementara zaman makin susah dan kebutuhan pokok semakin tak terjangkau........
(INSTRUMEN)
Y: Sudahlah Maria, kau jangan terlalu letih bekerja, aku takut nanti ada apa-apa dengan bayi yang ada dalam perutmu itu, gara-gara kamu kurang menjaga kondisi badanmu.
M: Biar Yosef..... kalau tidak begini, bagaimana aku bisa melahirkan jabang bayi yang sudah dipercayakan Allah padaku. Biaya melahirkan kan sekarang sudah sangat tinggi dan belum perawatan bayi ini nantinya: beli susunya, beli popoknya, dan masih banyak yang lainnya.......
Y: Yah sudahlah Maria...... kita serahkan semuanya pada Allah. Aku hanya percaya bahwa Allah akan senantiasa menyertai kita!
M: Yah...benar.....”Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menerut kehendakNya”.
(INSTRUMEN- sisusul Bunyi buldoser dan keributan di tempat pemukiman kumuh)
M: Yosef, suara apa itu? Kenapa banyak orang berlari-larian? (panik)
Y: Maria, kita semua akan digusur dari tempat ini. Areal ini harus segera dikosongkan karena tempat ini akan didirikan bangunan permanen untuk kepentingan Pemerintah.
M: Lalu bagaimana dengan kita Yosef?
Y: Sudahlah Maria, kita harus secepetanya pergi dari tempat ini. Tanah ini bukan milik kita!
PD1: (dengan pengeras suara) Saudara-saudara! Berdasarkan instruksi dari pemerintah, saudara-saudara harus segera meninggalkan areal ini karena tempat ini akan digunakan untuk kepentingan negara!
PD2: ya benar! Kalian semua memang bandel! Kami sudah memberitahukan sebulan yang lalu agar kalian secepatnya meninggalkan lokasi ini. Tapi kalian tidak mengindahkannya!
PD3: Ya....Karena kalian banyak membangkang maka tampat ini akan kami ratakan!
P5: Enak saja, kami tidak rela tempat kami digusur, kami akan tinggal di mana? Kalian mau menyediakan tempat yang layak bagi kami?
P6: Ya benar! Sudah 20 tahun saya dan keluarga saya tinggal di tempat ini dan kami sudah membayar pajak pada petugas untuk rumah kami, kenapa kami harus pergi? Kami tidak mau! Tidak! Sekali lagi Tidak!
P7: Kalian memang tidak tahu perikemanusiaan, kalian mementingkan perut kalian sendiri! Jangan! Jangan gusur rumah kami! Tidak...! Tidak....! (histeris,menangis)
P8: Kasihanilah kami pak, kami akan tinggal di mana? Jangan tindas kami orang-orang yang menderita ini? (meratap dan menangis)
PD3: Hah......kalian memang banyak bicara! Sudah tahu, tanah ini bukan milik kalian, mengapa kalian tetap tinggal di sini? Mana surat-surat tanah kalian?
PD2: Tanah ini sudah menjadi milik sah pemerintah dan sudah diputuskan lewat sidang di pengadilan tentang status tanah ini!
PD1: Ayo cepat bereskan barang-barang kalian! Kalau tidak, tempat tinggal kalian akan kami ratakan!
PD4: sudah tidak ada waktu lagi, hari ini kalian semua harus pergi dari tempat ini! Kami hanya melaksanakan perintah, dan ini kewajiban kami sebagai karyawan pemerintah, mengerti! (Bunyi buldozer kian menderu)
M: Yosef, kita harus cepat pergi
Y: Benar, mari kita kemasi barang-barang kita, sebelum traktor itu memporak-porandakan gubug kita, cepat Maria, waktu kita pendek, kita tidak bisa melawan kekuatan mereka, kita hanya orang kecil dan tak berdaya....
N: Walupun orang-orang meronta-ronta untuk diberi belas kasihan, namun jeritan tangis si miskin tak mereka hiraukan. Keputusan adalah keputusan. Hukum adalah hukum. Para pemulung hanya bisa melongo dan pasrah, sembari terus berharap bahwa nasib mereka akan berubah. Mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Hanya tangisan dan kepedihan tertancap pada hati mereka.
(INSTRUMEN)
N: Sementara itu, Yosef dan maria berjalan menyusuri trotoir. Hujan deras mengguyur kota dan kilat menyambar-nyambar membelah suasana malam yang pekat. Maria dan Yosef berjalan tertatih-tatih, terseok-seok di antara dinginnya malam. Kemanakah Allah akan membawa mereka?

ADEGAN II (INSTRUMEN)
M: Yosef, perutku terasa penat, aku sudah sangat lelah berjalan, akan kemanakah kita Yosef.......(sambil terengah-engah)
Y: Bersabarlah Maria, Allah belum menunjukkan tempat untuk kita beristirahat.
M: Yosef, aku sudah tidak kuat lagi....perutku lapar dan badanku terasa sakit semua....
Y: Kuatkan dulu Maria, kita akan mencoba mencari tempat penginapan sederhana di sekitar tempat ini. Barangkali tempat penginapan itu akan memberikan tumpangan untuk kita beristirahat malam ini! (Sambil berjalan menuju tempat peristirahatan-INSTRUMEN)
Y: Permisi....(mengetuk pintu)....... bolehkah kami menginap di rumah ini? Istri saya sebenatar lagi akan melahirkan, tolonglah kami!
H1: Hah...Apa! Menginap? Apakah kamu punya cukup uang untuk membayar sewa penginapan ini. Aku tidak yakin, orang seperti kalian bisa membayar sewa penginapan kami. Ingat ya, tidak ada yang gratis loh... kencing aja bayar! Please deh, cari penginapan lain aja, penginapan ini tidak menampung orang-orang gembel seperti kalian, mengerti!
Y: e...e...ya, saya mengerti tapi istri saya........
H1: sudah, sudah!..... Tidak ada tapi-tapian! kalian cepat tinggalkan tempat ini atau saya akan panggil Satpam saya untuk mengusir kalian! Dasar Gembel!... (menutup pintu dengan keras)
(INSTRUMEN)
M: Permisi, bolehkah kami menginap di tempat ini barang semalam, rasanya saya akan segera melahirkan bu.............
H2: heh...kalau mau melahirkan di rumah bersalin sana, bukan di sini! Ini rumah tinggal dan bukan tempat bersalin. Kalau mau melahirkan modal dong, jangan mau enaknya aja, sudah...sudah! Aku masih banyak pekerjaan.....cari saja penginapan yang cocok untuk orang-orang seperti kalian!
M: Kasihanilah saya bu....saya.....
H2: ah.....sudah-sudah...saya tidak banyak waktu untuk meladeni kalian....cari tempat lain saja sana! (menutup pintu)
(INSTRUMEN)
Y: Permisi.... bolehkah kami tinggal di sini barang semalam saja, istri saya sebentar lagi akan melahirkan.....
H3: Maaf ya...pak-bu....rumah kami sudah penuh. Anak saya saja ada dua belas, belum koponakan-keponakan dan cucu-cucu saya. Belum lagi pembantu-pembantu dan anak buah saya. Semua kamar sudah penuh, cari saja tempat lain!
Y: Biarkan kami tinggal semalam saja di samping rumah ibu, asal kami bisa berteduh dan tidak kehujanan.....tolonglah kami bu...........
H3: Sudah saya katakan, di sini tempat sudah tidak ada lagi. Coba kalian pergi ke rumah di bawah itu! Barangkali mereka mau kalian tumpangi! Mereka tukang sol sepatu yang baik, mereka hidup sendiri. Sudah ya...Saya akan menyusui anak saya yang keduabelas, entar keburu nangis lagi......... (menutup pintu)
(INSTRUMEN)






ADEGAN III
N: Yosef dan Maria semakin menderita, jalannya terseok-seok dan wajahnya pucat pasi. Malam semakin dingin dan larut, tak ada satu rumahpun yang mau menampung mereka! Dalam hati mereka bertanya, apakah yang Allah kehendaki atas diri mereka? Malam semakin pekat, Maria semakin letih dan penat. Akhirnya Yosef dan Maria menuju sebuah rumah kecil sederhana yang terletak tak jauh dari tempat itu dekat rel kereta api.
(INSTRUMEN)
Y: Permisi pak, bolehkah kami tinggal sebentar di tempat ini, kasihanilah kami pak, istri saya sebentar lagi akan melahirkan. Tolonglah kami.............
S: oh.. e..e....ya..ya...ya ....tak....apa...mari....mari.......silahkan masuk! Kalian kehujanan! (sambil berteriak) Bu....bu .... sini bu, ada tamu!
I: Ada apa pakne.....siapa?......oh kalian kehujanan...kalian dari mana?
S: sudah bu....jangan banyak tanya! Ambilkan handuk kering buat mereka sana! Mereka basah kuyup karena kehujanan!
I: iya..pakne......(sambil berlari)
S: Wah....baju kalian basah ya.......pasti kalian tidak punya pakaian ganti yang kering, karena baju yang kalian bawa juga basah terkena hujan bukan? Bu.....ambilkan pakaian baru kita untuk mereka!
I: (sambil berbisik) wah pakne....itu kan baju natal yang akan kita pakai di hari raya natal nanti!
S: (sambil berbisik) sudahlah Bune, mereka lebih membutuhkannya. Kalau mereka sakit bagaimana? Masakan kita akan meminjamkan baju kita yang udah compang-camping untuk mereka?
(sambil menepuk pundak istrinya) Nanti kita bisa menabung lagi dari hasil sol sepatu kita, dan kita membeli yang sama bagusnya dari itu. Kita kan masih punya sisa uang untuk membeli baju baru lagi!
I: (sambil berbisik) Ya sudah lah pakne, terserah pakne saja! (mengambil dan memberikannya baju itu pada mereka)
M: maaf pak, bu, kami sudah merepotkan bapak dan ibu, kehadiran kami membawa beban untuk bapak dan ibu...............
S: Oh... tidak apa-apa..., kalian memang perlu untuk ditolong, sudah..sudah...jangan terlalu dipikirkan. Bu bikinkan kopi panas buat mereka, mereka kedinginan... barangkali segelas kopi bisa mengusir dingin mereka...
I: (sambil berbisik) pak, kopi kita sudah habis, tinggal kopi natal yang akan kita minum di hari natal nanti, apa kita mau berikan juga pada mereka?
S: (sambil berbisik) ya sudahlah, ndak apa, mereka sedang membutuhkannya bu....entar kalau ada rejeki, kita bisa membelinya lagi..........
Y: Maaf pak, bu kami telah merepotkan....................................
S: oh tidak apa....kalian memang sedang membutuhkannya. Silahkan-silahkan kalian beristirahat di kamar kami...........biar kami tidur di sebelah saja. Di luar hujan deras, nanti istri saya akan mengantar kopi panas ke kamar, silahkan masuk ke kamar untuk beristirahat, tidak usah sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri. Mudah-mudahan kamu masih bisa bertahan (memandang ke arah Maria)
S: (sambil berbisik) Pak kita mau tidur di mana, kalau tempat tidur kita mereka pakai?
I: (sambil berbisik) udah lah bu, mereka lebih membutuhkannya! Kita toh masih bisa tidur di ruang sempit ini. Biarkan mereka beristirahat, mudah-mudahan mereka dapat menantikan kelahiran putranya dengan hati yang tenang. (Y+M masuk ke kamar-INSTRUMEN)
N: Malam semakin larut, hujan turun semakin deras. Yosef dan Maria bersandar pada kebaikan cinta Allah lewat uluran kasih orang-orang sederhana, yang dalam kepapaannya masih mau memberikan cintanya bagi orang yang membutuhkan. Akankah kasih Allah itu datang menerpa orang-orang yang lurus hati dan penuh iman?
(INSTRUMEN)
S: Bu kasihan ya mereka....
I: Kasihan sih kasihan pakne....tapi kita sudah tidak punya apa-apa lagi,.... kopi natal dan baju natal sudah kita berikan pada mereka.
S: Tenang bu, aku masih punya sedikit uang untuk membeli baju natal dan kopi natal lagi....besok kita belanja ke pasar ya.....
I: Ya sudahlah pakne....mudah-mudahan kita masih bisa natalan, ganti baju baru setahun sekali!
Yt: (mengetuk pintu) permisi....permisi............
I: siapa itu pakne, malam-malam mengetuk pintu! Bukakan pintunya pakne!
S: Eh...Yati, ada apa malam-malam begini ke sini Yati?
Yt: tolong saya pak, tolong pak, anak saya sakit keras, saya mau pinjam uang untuk anak saya berobat ke dokter, tolong kami pak......., anak saya panas tinggi, dia harus segera berobat.....! Saya takut ada apa-apa dengan anak saya! Saya takut itu gejala demam berdarah, sekarang kan lagi musim demam berdarah...............
S: e...e....e....sebentar ya (sambil berbisik) Duh....gimana ya bu, uang kita tinggal segitunya. Uang kita mau kita pakai buat natalan besok.
I: (sambil berbisik) sudahlah pakne, berikan saja, mereka sangat membutuhkannya bukan, anaknya sakit dan perlu berobat ke dokter. Ongkos dokter kan mahal pak, lagian Yati itu kan tetangga kita, ndak enak kan pakne! (Suami mengangguk)
S: (Mengambil uang dan memberikannya) eh..eh...iya..iya...ini sedikit uang, barangkali bisa menolong anak mu yang sedang sakit, cepat kamu bawa ke dokter! mudah-mudahan cepat sembuh ya! Tuhan memberkati.....................
Yt: Trimakasih pak, terimakasih, bapak dan ibu sangat baik! saya permisi dulu!
S: Yah bune............ kita sudah tidak punya apa-apa lagi........!
I: Sudahlah pakne........ tidak semua yang kita miliki adalah milik kita bukan? Kadang-kadang milik kita adalah milik orang lain juga. Natal tahun ini, memang banyak orang lagi membutuhkan pertolongan. Mungkin sudah seharusnya kita menolong mereka yang sedang membutuhkan pertolongan kita.
S: (bunyi tangisan bayi dan suara petir menyambar-nyambar serta bunyi lonceng gereja) Bu, anak mereka sudah lahir!.....(berdecak heran dan gembira)
I: ya...ya....suara bayi laki-laki......betapa bahagianya mereka pakne......!
S: Aku ikut merasa senang bu. Tapi kok.... ada petir menyambar-nyambar dan suara lonceng Gereja berbunyi? Siapa kah mereka itu ya bu?
I: Iya pak.........kita lupa menanyakan nama dan asal mereka tadi, siapa mereka itu ya?
(Yosef dan Maria keluar dari kamar)
S: Eh sudah lahir.... aduh lucunya anak ini.......
I: iya pakne lucu sekali.....mungil dan imut-imut!....
S: e...maaf...kami lupa menanyakan nama kalian...siapa nama kalian......
Y: Nama saya YOSEF.....
S+I: Ha....Yosef................(keheranan)
M: Nama saya MARIA........
S+I: Ha.....Maria..........(keheranan)
S: Kalian beri nama siapa, anak ini?
M: kami memberi nama “Immanuel”......
S+I: Hah Immanuel! (berdecak heran, sambil saling memandang)
S: eh....... anak yang tampan.......silahkan...silahkan......istirahat saja, biarkan kami di sini.....kalian perlu banyak istirahat, jangan ke luar-keuar dulu, bapak takut nanti ada apa-apa dengan bayi kalian! Ayo-ayo silahkan..........
S: (Sambil berbisik) Bu...nama-nama mereka seperti yang ada dalam Kitab Suci....jangan....jangan.....!
I: Ah...sudah Pakne, jangan mikir yang enggak-enggak.....mungkin hanya kebetulan saja!
R: (mengetuk pintu) Permisi..........Permisi...............
I: Pak ada tamu.....
S: Siapa malam-malam begini bertamu......kita sudah tidak punya apa-apa lagi bune.....
I: Buka saja pak.....serahkan saja semua pada Tuhan. Kalau tamu ini mau pinjam uang, katakan saja kalau kita sudah tidak punya uang lagi.........
S: (membuka pintu) eh...e...siapa kalian?...ada apa? Mungkin kalian salah masuk rumah!
R2: Tidak kami tidak salah rumah. Inilah rumah yang kami cari. Kami adalah wakil anggota MPR dan DPR. Kami melihat ada bintang besar bersinar di atas rumah ini.
R1: Benar, sesuai dengan ramalan Mama Lorens, bintang yang bersinar di atas rumah ini adalah simbol keberuntungan. Anak yang lahir di rumah ini kelak akan menjadi pemimpin yang akan memimpin jalan negara kami kepada kemakmuran dan kesejahteraan............................
R3: Ya....Di manakah anak itu? Kami membawa bingkisan ini, untuk bayi yang dilahirkan di rumah ini!
(Yosef dan Maria ke luar dari kamar)
R1: Waw.... inilah dia anak itu.....kami ingin mempersembahkan bingkisan ini buat kalian dan bayi ini.
R123: Selamat Natal, Tuhan memberkati! (bersama-sama) Permisi..................
Y+M: Terimakasih....
C1: (mengetuk pintu) Permisi..........permisi...........bukakan pintu.............
S: (membuka pintu) siapa kalian?
C1: Ha..ha....Akulah melkior! Aku datang dari negara Corona, aku melihat ada bintang besar tepat ada di atas rumah ini. Berdasarkan ramalan para narmal yang ada di negara kami, bayi yang terlahir di rumah ini akan membawa keberuntungan yang besar. Aku terpanggil untuk datang dan melihatnya. Aku yakin, suatu saat bila ia sudah dewasa, aku akan berguru padanya. Aku akan belajar bagaimana mengentaskan perselisihan dan peperangan yang terjadi di negara kami. Ini... terimalah bingkisan kecil dariku..selamat natal!
Y+M: terima kasih...........
C2: Ya...ya...ya... aku juga akan memperkenalkan diriku. Namaku Erika, aku datang dari negara Giana! Inikah bayi itu? Waw...Sangat tampan dan lucu. Aku membawa kado besar untuk bayi ini, terimalah dan berbahagialah! Tuhan memberkati kalian! Kelak, kalau bayi ini sudah besar nanti, aku ingin sumbangan pikirannya, bagaimana mengentaskan kemiskinan dan pengangguran yang ada di negaraku! Terimalah kado ini buat kalian...selamat Natal!
Y+M: Terima kasih.......................
C3: Hei...Akulah dia, Ying-Ying, aku datang dari negara Sakura. Aku datang dari jauh untuk memastikan bahwa ada bayi ajaib yang lahir di tempat ini. Berdasarkan buku ramalan ini, bayi yang lahir adalah bayi pembawa keberuntungan. Orang yang datang padaNya akan memperoleh suka-cita besar, karena kasih dan cintaNya yang bersinar laksana bintang kejora. Kelak aku ingin belajar ilmu cinta kasih darinya dan akan kubagikan ilmu kasih itu pada banyak orang! Terimalah ini! Selamat Natal, Tuhan memberkati!
Y+M: Terima kasih..............
S: e...e....ini dari kami, aku belum sempat mempersiapkan kado buat kalian. Aku hanya punya, sepatu kecil buat anakmu. Sepatu ini kubuat sendiri dari sisa-sisa bahan sol sepatuku. Aku yakin, sepatu ini cukup untuk bayimu nanti kalau sudah agak besar!
I: Iya....kami tidak punya apapun yang pantas untuk kalian, kami orang miskin....
M: Sudahlah bu, kami sudah banyak merepotkan keluarga ini. Kami minta maaf karena kami telah membuat bapak dan ibu kerepotan karena kehadiran kami.
Y: Benar....terimalah nak....sebagai tanda cinta kami pada kalian dan bayi ini............
(INSTRUMEN)
N: Sang Penebus telah lahir ke dunia 2000 tahun yang lalu. Ia datang dengan kebersahajaanNya. Semoga kita mampu dan bersedia bersahaja dalam bersenang-senang, bersahaja dalam bermilik dan bersahaja dalam berkuasa. Semoga di hari Natal dan Tahun yang baru, kita masih memiliki sepotong hati bagi mereka yang terpaksa menghangatkan dirinya dengan sepotong lilin kecil untuk mengusir dingin hidupnya, yang dalam kepapaan dan kemiskinannya memuliakan Tuhan sambil membayangkan tas dan bangku sekolah serta sepasang sepatu Natal.....
“Selamat Natal dan Tahun Baru 2009!”........(INSTRUMEN)





Selengkapnya...